Chemistry

Chemistry
dangerously nerdy

Minggu, 21 Februari 2016

Kimia Polimer : Pengukuran Permeabilitas Uap Air Edible Film Tepung Singkong Terplatisasi Gliserol



Pendahuluan
Edible film merupakan salah satu polimer yang bersifat biodegradabel. Sifat ini membuat edible film banyak digunakan sebagai pengemas. Keuntungan edible film antara lain dapat dikonsumsi langsung bersama produk yang dikemas, tidak mencemari lingkungan, memperbaiki sifat organoleptik produk yang dikemas, berfungsi sebagai sumplemen penambah nutrisi, sebagai flavor, pewarna, zat antimikroba, dan antioksidan (Murdianto, 2005). Bahan dasar pembuatan edible film dapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu hidrokoloid (protein dan polisakarida), lipid, (asam lemak dan wax) dan campuran (hidrokoloid dan lemak) (Garnida 2006). Edible film bersifat rapuh, mudah patah dan tidak lentur. Kondisi tersebut dapat diatasi dengan penambahkan plasticizer antara lain dengan menurunkan gaya intermolekuler sepanjang rantai polimer penyusunnya. Plasticizer yang biasa digunakan adalah monosakarida (glukosa), disakarida (sukrosa), oligosakarida, poliols (gliserol, sorbitol, polyetilen glikol) dan lemak serta turunannya. (Krisna 2011)
Laju transmisi uap air (Water Vapor Transmission Rate/WVTR) adalah jumlah uap air yang melalui suatu permukaan persatuan luas atau slope jumlah uap air dibagi luas area. Edible film dengan bahan dasar polisakarida umumnya sifat barrier terhadap uap airnya rendah. Film hidrofilik seringkali memperlihatkan hubungan-hubungan positif antara ketebalan dan permeabilitas uap air. Nilai laju transmisi uap air suatu bahan dipengaruhi oleh struktur bahan pembentuk dan konsentrasi plasticizer. (Liu and Han, 2005). Percobaan ini bertujuan membuat edible film dari tepung singkong terplatisasi gliserol dan menganalisis permeabilitas uap airnya.
Pembahasan
Edible film merupakan sebuah lapisan tipis (film) yang dibentuk dari bahan yang dapat dikonsumsi manusia (edible), berfungsi untuk menghambat transfer massa (kelembaban, oksigen, karbondioksida, aroma, lipid dan zat terlarut lainnya), melindungi makanan dan dari invasi uap air dan oksigen, mencegah kehilangan air dalam makanan, serta bersifat ramah lingkungan. Edible film banyak dibuat dari golongan pati, dalam percobaan ini digunakan pati singkong sebagai bahan baku pembuatan edible film. Langkah pertama yang dilakukan adalah melarutkan pati dalam 30 ml akuades. Larutan diaduk sambil dipanaskan pada suhu 50C selama 20 menit. Tujuan pemanasan adalah untuk mempermudah kelarutannya. Langkah selanjutnya ke dalam campuran tersebut ditambahkan gliserol. Hal ini dikarenakan film dari bahan baku karbohidrat bersifat rapuh. Penambahan gliserol diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas serta elastisitas film, atau sebagai plasticizer.
Gliserol sebagai plasticizer berperan dalam memperbaiki sifat-sifat edible film dengan cara menginterupsi interaksi antar rantai polimer, menghalangi terjadinya interaksi antara molekul dan meningkatkan jumlah molekul yang bebas, serta melemahkan kekuatan ikatan intermolekuler pada rantai polimer yang ada diseberangnya. Penambahan gliserol disertai dengan pemanasan pada suhu 70C dan pengadukan menggunakan magnetik stirer untuk menghilangkan pelarut dan membuat larutan lebih homogen. Film yang telah dicetak dalam pelat kaca dimasukkan ke dalam oven untuk menghilangkan kadar air dalam film. Edible film yang diperoleh dalam percobaan berupa lapisan tipis tidak berwarna(transparan).
Laju transmisi uap air (WVTR) pada edible film dihitung dengan membandingkan bobot air yang hilang terhadap waktu uji dan luas area film. Hasil percobaan (lampiran 1) menunjukkan bobot sampel yang berkurang setelah dipanaskan dalam oven. Hal ini menunjukkan terjadinya proses transmisi, namun jumlah bobot yang hilang cenderung kecil, diduga karena adanya edible film yang mampu menahan laju transmisi uap air. Rata-rata laju transmisi uap air (WVTR) dalam percobaan ini adalah 0.7630 gsm (lampiran 1). Laju transmisi uap air suatu bahan dipengaruhi oleh sifat kimia dan struktur bahan pembentuk, konsentrasi plasticizer dan kondisi lingkungan seperti kelembaban dan temperatur.
Migrasi uap air umumnya terjadi pada bagian film yang hidrofilik. Rasio antara bagian yang hidrofilik dan hidrofobik komponen film akan mempengaruhi nilai laju transmisi uap air film tersebut. Semakin besar hidrofobisitas film, maka nilai laju transmisi uap air film tersebut akan semakin turun. Sehingga dapat disimpulkan juga, semakin besar hidrofilisitas film, maka nilai laju transmisi uap air film tersebut akan semakin naik. Semakin lama sampel diletakkan dalam oven, maka edible film mengalami proses kejenuhan dengan uap air sehingga jumlah uap air yang diserap dari lingkungannya semakin menurun. Hal ini dapat dilihat dari penurunan jumlah massa uap air yang berpindah melewati edible film pada grafik (lampiran 2). Gliserol yang digunakan sebagai pemlastis menyebabkan peningkatkan fleksibilitas, sensitifitas terhadap uap air (Bergo dan Sobral 2007)
Nilai laju transmisi uap air menentukan permeabilitas uap air edible film. Permeabilitas uap air atau water vapor permeability (WVP) adalah kemampuan dari film untuk menahan laju uap air yang menembusnya. Permeabilitas film dipengaruhi oleh beda konsentrasi antara satu sisi dengan sisi yang lain. Semakin besar beda konsentrasi maka transfer massa yang terjadi semakin cepat. Permeabilitas juga dipengaruhi oleh tebal dari film. Semakin tinggi konsentrasi padatan terlarut, maka ketebalan film akan meningkat sehingga kemampuan edible film menahan uap air yang hilang semakin meningkat (Krisna, 2011). Rata-rata permeabilitas uap air yang dihasilkan pada percobaan adalah 1.6022x10^-8 gsmPa(lampiran 1). Edible film sebagai pengemas, digunakan untuk menahan migrasi uap air, maka permeabilitasnya terhadap uap air harus serendah mungkin.

Simpulan
Edible film dapat dibuat dari tepung singkong. Pengamatan terhadap sifat permeabilitas uap air dapat digunakan sebagai indikasi kualitas edible film yang dihasilkan. Penambahan gliserol sebagai plasticizer meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas film, serta menaikkan nilai permeabilitas uap air. Rarata permeabilitas uap air yang diperoleh cukup rendah. Semakin rendah permeabilitas suatu edible film terhadap uap air semakin bagus untuk digunakan sebagai pengemas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar